Langsung ke konten utama

kisah seorang bocah palestina sediiiih banget.


Berlian yang Hilang
            Jalur Gaza adalah sebuah kawasan yang terletak di pantai timur Laut Tengah, bagian dari wilayah Negara Palestina, berbatasan dengan Mesir di sebelah barat daya, dan Israel di sebelah timur dan utara.
Tahun 2010,02,03
Hujan turun dengan lebat, membasahi bumi Allah ini, udara yang sejuk membuat aku semakin bersemangat untuk beraktifitas. Walau hujan yang turun dengan deras, namun itu tidak membuatku patah semangat untuk pergi kesekolah. Layaknya anak-anak pada umumnya, yang harus pergi kesekolah untuk belajar, dan berbakti kepada kedua orangtua. Dan disinilah negaraku, Palestina yang sejak berabad-abad menjadi perebutan antara umat yahudi Israel dan umat Islam seluruh dunia. Disinilah aku lahir, dan disini pula aku mendapatkan nama ini. Abdullah Asad, itulah namaku, nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Mereka yang memberikan nama yang terindah ini, dan jalur Gaza adalah tempat tinggalku, aku berusia 6 tahun. Dengan kekurangan yang aku miliki, itu pula tak menjadikan ku patah semangat. Walau kaki sebelah kiriku telah hilang, terkena ledakan waktu itu. Ledakan bom yang terjadi pada tahun 2006, saat umurku baru menginjak 3 tahun. Ledakan yang terjadi 3 tahun yang lalu, telah menghancurkan tempat tinggal kami, dan saudara-saudaraku yang aku sayangi. Dan kini akku menggunakan kaki palsu, bantuan dari saudara muslim di Indonesia.
Aku seorang anak berkulli putih dan berambut pirang, aku adalah anak asli keturunan palestina.
                Kini aku tinggal bersama ayah dan ibuku. Dan membangun rumah baru di jalur Gaza. Harta yang aku milki saat ini adalah ayah dan ibu yang sungguh aku sayangi. Mereka berdua laksana berlian yang mahal harganya dan tak kan bisa digantikan oleh apapun. Kami tinggal di perumahan, bersama yang lainnya. Syukurlah dan masih beruntung nenek dan kakek ku masih hidup, tidak terkena ledakan bom tiga tahun yang lalu.
                Dengan langkah kaki, yang penuh semangat aku pergi ke sekolah dengan mantel hujan berwarna kuning dan sepatu boot yang akan melindungi ku dari derasnya air hujan rahmat allah ini. beruntung pula, jarak perumahan dengan sekolahan hanya beberapa ratus meter. Setelah sampai di sekolah kami belajar, dan sekali lagi setiap gerak gerik kami, diawasi oleh si keji basar asad.
Jam, 14.00
kami pulang sekolah, aku segera masuk kedalam rumah karena kata ayah dan ibu harus segera masuk kedalam rumah sebelum para tentara Israel menculik dan membunuhmu. Jam dua siang aku melihat keluar jendela. Seluruh rumah dan pintu tertutup rapat, dan tidak ada aktifitas diluar sana. Jalanan kosong dan sepi, layaknya kota mati. ya…. Begitulah kota kami dan beginilah keadaan negri kami. Kami hanyalah warga yan g lemah dan menginginkan kebebasan, ingin sekali merdeka layaknya Negara-negara lainnya. Ingin tidak mendengar suara mesiu dan ledakan bom yang membuat kami harus berlindung dan meninggalkan kota kami sementara atau selamanya.
                Tepat jam 14.15 para tentara Israel datang dengan pekaian lengkap, dan menembakan peluru untuk menakuti kami semua. Sekitar 15 orang tentara Israel berdiri di jalanan sana. Aku melihatnya dengan jelas, seorang pemuda berusia sekita 15 tahun keluar rumah untuk membunujh mereka, ia membawa tembak ia berada jauh dibelakang mereka, “dor.. dor…” suara tembakan dan peluru dari pemuda itu melsat dan tepat mebunuh salah satu dari tentara itu, pria gemuk dari tentara israel itu mati dalam sekejap saja. Karena terkejut, mereka semua berbalik arah dan menembakan peluru mereka semua ke tubuh pemuda itu. Akhirnya pemuda itu mati, aku sangat kenal sekali dengan pemuda itu. Ia adalah seorang pemuda yang sering sekali memberikanku sebotol susu. Ia juga adalah pemuda yang baik, sering sakali aku bermain dan bergurau dengannya. Dan mungkin ini adalh pertemuan terakhirku dengannya di dunia ini. aku bersedih menangisi kepergiannya.
                Aku tahu, dia melakuakan ini karena ia sangat dendam pada mereka semua, k,arena merrekalah yang telah memisahkannya dari seorang yang dia sayangi ia dalah ibunya. Karean sejak ia lahir ayahnya tealh pergi lebuh dahuku dibandingkan ibunya. Ia hidup bersama ibunya selama 10 tahun. Ia sangat mencintai ibunya itu, dan hingga akhirnya sebuah bom jatuh tepat mengenai bangunan yang mereka tinggali waktu itu. Dan jasad ibunya tertimbun oleh reruntuhan bangunan.

------------------~~~~~~~~~~~~~------------------

Jam 16.00
                Setelah tentara Israel itu pergi,para warga kota gaza dan mengrumuni jasad si fulan. Kami membawanya dan melakukan pemakan untuk dirinya. Kami memandikan, mengkafani, dan menyolatinya. Kami sangat sedih atas kepergiannya, ia adalah sosok pemuda yang  baik dan senang menolong orang yang sedangn dalam kesulitan. Ia memberikan makan kepada orang yang mungkin menurutnya lebih membutuhkan dari pada dirinya. Katanya sewaktu hidup, “aku akan membantu orangn yang sedang kesusahan walau sebenarnya diriku sedang kesusahan pula.” Jelasnyab pada ayahku sewaktu hidup. Aku juga sangat sedih saat kepergiannya, karena ia juga adalah seorang kawan  yang selalu membuatku tertawa.
                Setelah proses penguburan kami beranjak pulang. Di depan pintu gerbang, aku menahan tangan ayahku yang menuntunku. “ada apa anakku?” Tanya ayah, “ayah apakah kita akan bersama?” tanyaku dengan  meneteskan air mata. Lalu ia jongkok dan bertanya kembali, “kenapa kau bertanya seperti itu anakku?” akku menjawab, “karena aku tidak ingin kita berpisah, ayah!” jelasku. Kemudian iya mengusapkan airmataku dengan ibu jarinya dan berkata, “anakku jika allah masih memberikan izin kepada kita untuk bersama, insya allah kita akan bersama” jelasnya, kemudian ia mencium keningku dan menggendongku selama perjalanan pulang.
                Hari mulai menjelang petang, aku melihat cahaya matahari yang mulai memudar berganti dengan  malam. Adzan maghrib dikumandangkan, disini hanya ada sebuah masjid yang menjadi tempat beribadatan kami, kami berbondong-bondong kesana, lokasi masjid itu dekat dengan sekolahku. Masjid itu tidak terlalu besar, dan terkadanng apabila bagian dalam masjid sudah tidak mencukupi, maka sebagian dari kami akan shalat di jalan dan memenuhi jalanan karena hanya ada satu masjid itu yang tersisa di kota kami. Tetapi kami tetap bersyukur, walau dalam keadaan ini kita masih tetap bersujud untuk mengingat allah.
                Selepas pulang dari masjid, aku melihat segerombolan tentara palestina dengan pakaian lengakap. Aku nerlari ututk mendakiti mereka, tapi ayah segera menangkapku dan melarangku untuk mengikuti mereka, karena itu sangat berbahaya.
Pukul 21.15
                Hari semakin gelap, dan sinar mentari telah berganti dengan rembulan yang indah, begitu pula dengan bintang-bintang yang bertebaran di langit. Mereka begitu indah dan menjadi temanku dimalam hari.ini adalah kamarku, kamarku tepat berada di loteng rumah, bila malam tiba aku dapat melihat bintang yang menjadi hiasan langit. Sebelum tidur aku mencium pipi ayah dan ibu, lalu menggosok gigi. Aku selalu menangis dimalam hari, karena aku takut esok harinya aku tidak dapat melihat cerahnya sinar matahari. Aku selalu berdoa, agar allah melindungi kami semua dari keburukan.
                Beberapa jam kemudian. Aku terbangun, terkejut mendengar suara ledakan bom yang mungkin tidak jauh dari rumahku. Aku segera turun dari ranjang dan bersegera mendatangi ayah dan ibu, aku menangis dan menjerit dengan kencang. “ayaaaaaah….. ibuuuuuuuuuuu…….” Aku berteriak memanggil mereka, segera mereka mendatangiku.  Mereka berdua mencoba menenangkanku. “asad tenanglah! Tidak apa-apa, itu hanya ledakkan bom kecil, kita akn bersama, percayalah!!” ujar ayah menenangkanku, tapi aku memiliki firasat yang aneh. Aku menatap mata ayah dan memeluknya. Ayah ibu aku tidak ingin, kita berpisah secepat ini. ibu berkata, “tenanglah ankku, insya allah kita akan bersama.” Katanya mencium keningku. Aku memeluk mereka berdua, dan merasakan tubuh mereka dingin. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada ayah dan ibu.
                Suara dentuman bom kembali terdengar, kali ini lebih banyak, kami merasakan dalam satu detik, ayah melihat keadaan luar dari jendela, ternyata tentara Israel kembali menyerang kami. Ayah membisikkan telinga ibu untuk membawaku segera ketempat yang aman. Mereka berpelukan dan ibu menggendongku, lalu membawaku berlari. Ibu melewati pintu bawah tanah, yang itu telah kami persiapkan untuk kabur dari rumah. Setelah ibu membawaku masuk kedalam ruang bawah tanah, aku mendengar suara tembakan dan terakan. Ibu berhenti dan menurunkan ku. Aku betanya “ibu apakah ayah baik-baik saja?” ujarku lirih. Ibu memandangku dengan air mata yang mengalir, ia berkata “iya, ayah baik-baik saja” jawab ibu. “tapi ibu, bila ayah baik-baik saja kenapa ibu menangis?” tanyaku. Tapi ia hanya mengglengkan kepala.

                Kita hanya berdua, di dalam ruangan yang gelap itu. Kami terus melangkah dan akhirnya pintu keluar telah kami dapati. Tidak ada satupun orang yang mengetahui akan adanya terowongan ini. terowongan ini hampir menuju, perbatasan antara Israel dan palestina. Kami segera keluar mencari tempat untuk berlindung. Lalu seorang pahlawan palestina membantu kami, ia membawa kami menuju pemukiman yang telah dipersiapkan. Tapi sebuah peluru melesat mengenai punggung ibuku. Sontak saja ibu terjatuh, dengan darah yang keluar dengan deras dari tubuhnya. “ibuuuu….” Aku berteriak dengan tangisan. Segera para medis membantu ibuku, mereka membawanya kedalam ruang operasi. Tapi mungkin Allah berkata lain, Ia mengambilnya setelah ibu berkata kepadaku, “asad ibu sayang kamu nak, jaga dirimu baik-baik ya nak, kita akan bertemu disurga nanti.” Ujarnya, dengan nafas yang sulit. Ibu menangis dan akhirnya meninggal. Ia menutupkan matanya dengan ssenyuman dibibirnya. Aku menangis memanggilnya, “ibuuuu…. Bangun ibu, bangun ibu!” panggilku. Lalu seorang volunteer yang baik hati memelukku, ia menenangkanku dan memberika semangat padaku. Tepat di jam 00.00 di hari rabu, ibu meninggal karena ‘a bullet stray’ (tembakan peluru)

bersambung.......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resep pisang coklat meler, ala mama Zein dan Zein. manis dan bergizi

Hai, ibu-ibu bingung nih mau buat jajan apa untuk makanan sehat si kecil atau keluarga, yuk ikuti zein. Zein punya resep yang sangat menarik, membuat Pisang Coklat Meler ala mama Zein. Zein dan mama Zein memberikan resep ini untuk mama-mama semua secara gratis yuuhuu langsung saja yuk masuk ke link yg sudah kami sediakan.  Berikut adalah link ke file: https://1drv.ms/w/s!ApLXLlN-wCKfgQf9mOHohFiDBUzl Dibagikan dari Word untuk Android https://office.com/getword